Oleh: Willy

Paradigma Pertanggungjawaban

Beberapa waktu belakangan, beberapa ormawa disibukkan dengan kegiatan Mubes (Musyawarah Besar, ambigu, sebesar apa?). Kegiatan ini rata – rata dilaksanakan lebih dari 2 (dua) hari. Bahkan, ada yang 4 (empat) hari, berturut – turut! Saya yang hanya membayangkan udah capek. Tata tertib pun dibahas 6 (enam jam). Sekilas dari kabar burung, mubes isinya adalah persidangan pengurus lama atas kesalahan – kesalahan yang mereka lakukan. Pertanyaan saya, apa sikap apresiatif sudah musnah dari pemikiran mahasiswa jaman now?

Sikap apresiatif

Sikap apresiatif merupakan sikap yang menunjukkan apresiasi atas pencapaian suatu organisasi atau perseorangan. Pentingkah sikap ini? Penting sekali. Kalau sikap apresiatif sudah hilang dari benak Anda, maka Anda akan menjadi orang yang hanya pintar mencari kesalahan, tanpa solusi, apalagi aksi. Seharusnya, mubes dan laporan pertanggungjawaban (LPJ) lebih banyak menunjukkan apresiasi atas kerja keras pengurus selama setahun penuh. Bayangkan, mereka mengurus banyak orang dan acap kali mengesampingkan urusan pribadi. Contohnya? Banyak. Kalau mereka hanya dicari – cari kesalahannya (apalagi kesalahan yang menurut saya gak penting, seperti lpj tidak dibendel), lalu apa bisa waktu dikembalikan? Bukannya lebih adem jika saling apresiasi dan mencari kekurangan serta solusi dari kepengurusan sebelumnya. Saya yakin, kalua semua menunjukkan sikap saling apresiasi dan ‘sopan’, mubes tidak akan sampai 4 jam! Bukankah daripada duduk di ruangan sambil mencari – cari kesalahan, lebih baik bikin kegiatan nyata, atau belajar. For your information, mubes dilaksanakan mendekati UAS (alias besoknya UAS), bahkan di tengah UAS. Lha?

Mahasiswa dan Organisasi

Memang benar, mahasiswa harus berorganisasi, saya setuju 100%. Organisasi dapat memberikan pelajaran bagi mahasiswa mengenai cara berkomunikasi dengan orang lain, mengurus forum, dan tampil di depan banyak orang. (dan masih banyak lagi). Namun, kuliah adalah tujuan utama kalian ada di kampus, tentunya tanpa ada yang dikorbankan (meskipun sulit). Tapi, bukankan keren jadi organisatoris, IPK cumlaude, dan lulus tepat waktu?

Penutup

Kesimpulan yang  bisa saya berikan, jadilah organisatoris yang bisa bijak membagi waktu. Jadilah orang yang banyak apresiatif, banyak kerja nyata, minim maido. Organisasi kekinian itu, yang bisa dibuat cepat, kenapa dibuat ruwet? Bukan sebaliknya! Selamat menyongsong UAS!

Salam.

26 Thoughts on “#OPINI – Membangun Organisasi yang (katanya) ‘Kekinian’”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *